Tahapan Pemilu 2024 !!! Cek nama Anda di DPS mulai 12 April - 2 Mei 2023 hubungi PPS di Skretariat PPS Desa Jati atau melalui cekdptonline.kpu.go.id

Artikel

Sejarah Desa

08 Agustus 2022 20:49:09  Administrator  732 Kali Dibaca 

Sejarah Desa Jati

 

Desa Jati merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Desa Jati terbagi dalam 7 dusun, di antaranya Dusun Jangkang, Dusun Sawangan, Dusun Kembangan Lor, Dusun Kembangan Kidul, Dusun Kliwonan, Dusun Winong, dan Dusun Siringin. Meski tidak ada referensi baku terkait awal berdirinya Desa Jati, masyarakat sekitar meyakini kisah turun temurun yang diceritakan oleh orang tua mereka. Tutur Tinular yang ada mengisahkan seorang musafir sakti datang dari suatu daerah dengan berjalan kaki serta membawa tongkat yang terbuat dari kayu Jati Belanda. Hingga di suatu tempat, ia berhenti dan menancapkan tongkatnya. Konon, tongkat tersebut ditancapkan di tempat yang saat ini merupakan Dusun Kembangan Kidul. Setelah melanjutkan perjalanannya selama beberapa waktu, musafir itu teringat akan tongkatnya yang tertinggal dan berakhir kembali berjalan ke tempat tersebut. Namun sesampainya di sana, tongkat miliknya sudah bersemi, tumbuh menjadi pohon Jati.

Suk yen ana rejaning jaman, desa iki tak jenengi Jati Sawit.”

Masyarakat meyakini bahwa Jati Sawit berarti Jati sak wit, artinya satu pohon Jati.

 

Sigarbawang

            Sigarbawang yang berasal dari kata Garba dan Awang ini memiliki arti rahim yang berada di awang-awang, atau sebuah tempat yang sangat tinggi. Puncak Desa Jati ini disebut sebagai tempat wisata religi yang menyejukkan dengan pemandangan alamnya mulai dari Gunung Sumbing hingga hamparan pedesaan. Dulunya, Sigarbawang merupakan tanah lapang datar yang memiliki 3 situs, di antaranya situs petilasan, situs padusan atau tempat pemandian berupa sendang, dan situs pekaringan atau tempat untuk berjemur. Sebuah pohon bulu yang menjulang tinggi menjadi simbol tempat wisata tersebut karena tampak dari kejauhan. Batu-batu besar yang berada di beberapa sudut juga menunjukkan keunikan khas Sigarbawang. Namun menengok kondisi sekarang, ketiga situs dan beberapa keunikannya sudah disembunyikan oleh rimbunnya pepohonan dan hanya tersisa situs petilasan yang tampak jelas.

Objek Petilasan Kelapa

 

Menjadi sebuah tempat bersejarah di Desa Jati, Sigarbawang dipercaya merupakan petilasan seorang petapa yang dibuktikan dari adanya sebuah tempat menyerupai makam dengan cungkup dari ijuk sebagai atap pelindung. Sosok petapa inilah yang kemudian dianggap sebagai tokoh musafir pendiri Desa Jati. Di samping hanya tersisa satu situs, terdapat sisa-sisa bangunan musala yang terbengkalai sehingga minat masyarakat untuk berkunjung mulai berkurang.

 

Sisa Bangunan Musala

 

Kompleks Makam Hastana Kembar Sawanggaten

 

Gapura Makam Hastana Kembar Sawanggaten

 

Sebagai sebuah desa yang menjadi tempat tinggal sekelompok masyarakat, Desa Jati tidak dapat dilepaskan dari sistem pemerintahan yang akan mengatur kegiatan mereka agar tertata dengan baik. Tokoh penting lain yang berperan dalam perkembangan Desa Jati, terutama dalam bidang sistem pemerintahannya, adalah Ki Sawanggati. Meski asal-usulnya hingga saat ini belum diketahui, masyarakat meyakini bahwa beliau didatangkan oleh Lurah Desa Jati I, Ki Mentowongso, yang kerap disebut sebagai Mbah Jenggot karena memiliki jenggot yang panjang sampai pusar. Ki Sawanggati yang memang merupakan tokoh spiritual kejawen dipercaya oleh Ki Mentowongso untuk mendampinginya karena dianggap menguasai segala hal yang dapat membantu memperkuat kedudukan sang lurah. Dengan begitu, Ki Sawanggati dikenal sebagai penasehat spiritual di bidang kebudayaan selama pemerintahan Lurah I.

Rumah Turun-temurun Lurah Desa Jati

 

Ki Sawanggati datang bersama adiknya yang bernama sama sehingga masyarakat membedakannya dengan sebutan Sawanggati Sekar Gadung untuk Ki Sawanggati I dan Sawanggati Gambir Sawit untuk Ki Sawanggati II. Penamaan tersebut didasarkan pada gending yang keduanya gemari, juga saat itu kedatangan mereka dengan membawa seperangkat gamelan Jawa ke rumah Lurah I. Diketahui bahwa Ki Sawanggati I tidak berkeluarga, berbeda dengan Ki Sawanggati II yang pada akhirnya meneruskan jabatan Ki Mentowongso sebagai Lurah II. Anak dari Ki Sawanggati II merupakan Ki Mentodikromo yang dikenal dengan sebutan Mbah Cantuk karena beliau menggunakan teken yang berbentuk cantuk. Lurah-lurah selanjutnya yang menjabat dikatakan masih berada dalam garis keturunan yang sama dan 6 dari 11 Lurah Desa Jati menempati rumah yang sama, yang dulunya berupa rumah Joglo dan seiring berkembangnya zaman sudah mengalami renovasi.

Makam Ki Mentowongso (depan) dan Ki Sawanggati I dan II (belakang)

 

Pada Kompleks Makam Hastana Kembar Sawanggaten, makam milik Ki Mentowongso dan Ki Sawanggati I dan II masih berada dalam posisinya yang dahulu.  Makam Ki Sawanggati II dan istrinya berada di depan Ki Sawanggati I, sedangkan makam Ki Mentowongso terdapat di tempat yang terpisah. Meski begitu, masyarakat meyakini bahwa tanah pemakaman milik Lurah I tersebut semakin meninggi. Dalam pandangan ilmu geologi, karena kedua tanah makam milik Ki Mentowongso juga Ki Sawanggati I dan II terlindungi oleh cungkup atau rumah kecil yang dulunya hanya berupa ijuk, justru tanah sekitarnya yang tidak terlindungi cungkup itulah yang semakin terkikis karena air hujan. Keaslian lain yang masih ada tampak pada nisan buatan Belanda milik Ki Sawanggati I yang terbuat dari batu cadas meski tulisan aksara Jawa dan beberapa bagian utama lainnya sudah hancur tertimpa pohon beringin besar yang tumbang di masa itu.

Penamaan Makam Hastana Kembar sendiri dikarenakan posisi makam yang terbagi dalam dua tempat, yaitu bagian atas dan bawah, serta dipisahkan oleh jalanan umum. Makam pada bagian atas ada lebih dulu dari makam pada bagian bawah karena sebagai tempat pemakaman Lurah I dan keturunannya, walaupun saat ini keduanya sudah menjadi kompleks pemakaman umum atau warga sekitar. Kompleks Makam Hastana Kembar Sawanggaten merupakan salah satu wisata religi Desa Jati yang kental akan sejarahnya dan hingga saat ini masih dikunjungi untuk ziarah setiap ada acara tertentu, seperti juga misalnya kegiatan Nyadran atau Haul. Ki Sawanggati I sebagai tokoh penting juga memengaruhi kesenian yang dimiliki oleh salah satu dusun di Desa Jati, yaitu Dusun Jangkang dengan kesenian Lengger. Dikatakan bahwa sebelum Ki Sawanggati I wafat, beliau meminta untuk ditampilkan kesenian tersebut.

 

Sikepel

 

Puncak Lokawisata Sikepel

 

Tempat bersejarah lain yang dimanfaatkan sebagai objek wisata Desa Jati adalah bukit Sikepel. Sebagai destinasi wisata utama desa, diketahui bahwa lahan perbukitan tersebut telah ada sejak zaman pemerintahan Belanda. Pemberian nama Sikepel terinspirasi dari pohon kepel yang tumbuh tinggi berbuah lebat di puncak bukitnya. Dahulu pemerintah daerah Purworejo kerap menggelar kegiatan penting di tempat tersebut dan menanam beberapa jenis tanaman. Saat ini, Sikepel berkembang menjadi lokawisata keluarga yang rindang akan pohon pinusnya dan dikenal dengan istilah Wisata Alam Bukit Sikepel.

Kirim Komentar


Nama
No. Hp
E-mail
Isi Pesan
  CAPTCHA Image [ Ganti gambar ]
  Isikan kode di gambar
 


Wilayah Desa

Sinergi Program

Pemkab Purworejo

   

Agenda

Statistik Penduduk

Komentar Terbaru

Info Media Sosial

Lokasi Kantor Desa


Kantor Desa
Alamat : Dsn Kliwonan Rt 001 Rw 005, Ds. Jati, Kec. Bener, Kab. Purworejo
Desa : Jati
Kecamatan : Bener
Kabupaten : Purworejo
Kodepos : 54183
Telepon :
Email : jati.bener@purworejokab.go.id

Statistik Pengunjung

  • Hari ini:12
    Kemarin:25
    Total Pengunjung:29.634
    Sistem Operasi:Unknown Platform
    IP Address:3.239.76.25
    Browser:Tidak ditemukan

Arsip Artikel

09 Agustus 2022 | 880 Kali
Diorama Alam dalam Genggaman
08 Agustus 2022 | 732 Kali
Sejarah Desa
07 November 2014 | 386 Kali
Pemerintahan Desa
29 Juli 2013 | 383 Kali
Profil Desa
14 April 2023 | 368 Kali
Visi dan Misi
29 Juli 2013 | 351 Kali
Kontak Kami
24 Agustus 2016 | 342 Kali
Pemerintah Desa
20 April 2014 | 99 Kali
Peraturan Pemerintah
09 Agustus 2022 | 202 Kali
Katalog UMKM Desa Jati
29 Juli 2013 | 117 Kali
Badan Permusyawaratan Desa
13 April 2023 | 72 Kali
Survei Lokasi Penerima SLBM
30 April 2014 | 77 Kali
RT RW
24 Agustus 2016 | 339 Kali
Data Desa
29 Juli 2013 | 383 Kali
Profil Desa